sejarah taman kanak-kanak

   Sejarah Taman Kanak-Kanak

Istilah kindergarten ( kinder= anak, garten= taman) atau taman kanak-kanak mulai dikenal setelah Friedrich Wilhelm Frobel ( 1782-1852) seorang ahli pendidikan, mendirikan Kindergarten di Jerman pada 1837. Sebagai orang pertama yang memperkenalkan kindrgarten system, Froble percaya bahwa esensi pendidikan anak usia dini adalah pada aktivitas diri anak itu sendiri dan bermaian.

Pemikiran tentang pentingnya pendidikan khusus bagi anak usia dini sesungguhnya juga sudah dilontarkan jauh sebelumnya oleh para filusuf dan tokoh pendidikan seperti Marthin Luther (1483-1546), Jhon Comnius ( 1592-1670), Jen Jacques Rousseau ( 1712-1778), maupun John Hendrick Pestalozzi ( 1747-1827). Martin Luther menyarankan agar anak laki-laki diberikan pendidikan formal. Logikanya, baik secara ekonomi ataupun untuk kepentingan pendidikan keturunanya kelak.

John Comenius justru sebaliknya dengan Martihin Luther. Comenius menyarankan agar semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, mendapatkan kesempatan yang sama untuk bersekolah. Comenius juga melontarkan gagasan tentang kurikulum teintegrasi  (integrated curriculum) atau kurikulum terpadu yang tidak memisahkan mata pelajaran secara kaku. Kurikulum itu memberi kesempatan anak untuk belajar pengalamn langsung (hands on curriculum). Kegiatan pembelajaran anak disarankan mulai dari aktivitas fisik, sepeti mengamati, meyusun dan merangkai.

Jen jacques rousseau, seorang filsuf terkenal asal prancis, menentang pendapat bahwa anak miniatur orang dewasa. Ia menyarankan agar anak didik sesuai kodratnya sebagai anak dan sesuai usia perkembangan mereka. Rousseau berpendapat, sejak lahir sampai usia 5 tahun anak belajar melalui aktivitas fisiknya.

Setelah itu, usia 5-12 tahun, anak belajar melalui pengalaman langsung dan melalui eksplorasi terhadap lingkungannya.

Sementara John Hendrick Pestalozzi menyarankan agar anak belajar dari benda-benda nyata. Rekreasi dan bermain menjadi bagaian dari pendidikan anak. Bagi Pestalozzi, anak harus memiliki kemerdekaan dan dan terbebas dari tekanan batin dalam belajar. Sehingga anak bisa belajar dan berpikir secara optimal. Sejak dirintis pertama kali oleh Fiedrich wilhelm Frobel di Jerman, pendidikan taman kanak-kanak kemudian berkembang pesat dan mengalami penyempurnaan. Tokoh pendidikan taman kanak-kanak kemudian berkembang pesat dan engalami penyempurnaan. Tokoh pendidikan taman kanak-kanak yang terkenal hingga saat ini adalah maria motesori, seorang dokter  asli Italia, lahir 1870. Pada 1907, ia mendirikan sekolah yang diberi nama Case Dei Bambini (Rumah Anak) atau Children’s House. Montesori kelak, sekolahnya itu dikenal dengan nama montesori school.

Pengalaman yang kaya dalam mendidik anak kemudian ditulis montessori dalam sebuah buku berjudul scientific paedagogy as apllied to child education in childern’s hous. Montesori menggambarkan kodrat anak sebagai makhluk yang memiliki daya serap tinggi terhadap informasi, yang dikenal dengan teori the absorent of mind.

Menurut montesori, anak terus menerus menyerap informasi dari lingkungannya, baik secara sadar maupun tidak. Pada tahap awal, anak sekedar menyerap informasi tanpa adanya aktivitas berpikir terhadap informasi yang diserapnya. Kelak ketika ia lebih dewasa, informasi itu sedikit demi sedikit ditata dalam struktur pengetahuan dan digunakannya untuk berpikir.

Belakangan pada abad ke-19 hinga abad ke-20an, muncul pemikir-pemikir di bidang psikologi dan perkembangan anak, mulai dari jhon dewey, Digmund Freud , Lev Vygotsky, Jean Piaget, Benjamin s. Bloom, hingga Burrhus Frederic (FB) Skinner.

John Dewey menekanakan, pendidikan merupakan proses rekonstruksi pengalaman yang tak pernah berakhir. Oleh karena itu, sekolah sebaiknya memanifestasikan kehidupan itu sendiri, sebagaimana kehidupan yang dialami anak didalam keluarga dan masyarakat.

Segmund Freud menekankan pentingnya mendidik anak dengan benar karena berbagai perilaku manusia ketika dewasa sesungguhnya bisa dideteksi dari apa yang terjadi pada masa kanak-kanak. Oleh karena itu, kesalahan dalam mendidik anak pada masa kecil, nantinya berdampak pada munculnya bebagai perilaku menyimpang ketika sudah dewasa.

Lev Vygotsky, psikolog asal rusia yang mencetuskan teori yang dikenal dengan nama cocial cognitive learning theory. Menurutnya, interaksi sosial memegang peranan terpenting dalam perkembangan kongnitif anak. Anak belajar melalui dua tahapan. Pertama, melalui interaksi dengan orang lain, baik keluarga, teman sebaya, maupun gurunya. Kedua, secara individual ia mengintergasikan apa yang dipelajarinya dari orang lain ke dalam steruktur mentalnya.

Teori belajar Vygotsky ini memiliki empat prinsip umum, yaitu anak merangkai pengetahuan, belajar terjadi dalam konteks yaitu anak merangkai pengetahuan, belajar terjadi dalam konteks sosial, belajar mempengaruhi perkembangan mental, dan bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan mental anak.

Jean Piaget menguraikan teori perkembangan anak dilihat dari aspek intelektual maupun moral. Ahli psikologi dari Prancis ini memberikan sumbangan pengetahuan yang sangat besar untuk memahami perkembangan anak pengetahuan yang sangat besar untuk memahami perkembangan anak. Menurut piaget, semua anak memiliki pola perkembangan kognitif yang sama, yaitu melalui tahap sesorimotor ( usia 0-2 tahun, praoperasional (usia 2-7 tahun), konkret operasional (7-11), dan formal operasional (usia 11 tahun keatas).

Benjamin A. Bloom, yang terkenal dengan teorinya tentang taksonomi pendidikan, mengembangkan tiga domain yang menjadi tujuan pendidikan, termasuk pendidikan taman kanak-kanak, yaitu domain kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pada tingkat taman kanak-kanak karena berada pada taraf berpikir konkret, maka yang harus mendapat perhatian adalah pengembangan domain psikomotorik.

Penelitian terakhir, yang kemudian dipublikasikan secara luas dan dipakai sebagai rujukan oleh para pakar maupun pengambil kebijakan, menunjukan bahwa pada usia 4 tahun perkembangan intelektual anak sudah mencapai 50%. Pada usia 8 tahun, tingkat kecerdasannya sudah mencapai 80%, dan usia 18 tahun mencapi 100%.

Sedangkan BF Skinner, seorang Behaviorist terkenal, menekankan perlunya menciptakan situasi tertentu untuk mengarahkan perilaku anak. Baik Skinner , perilaku anak bisa diukur, diamati, dan diarahkan seperti yang diharapkan, dengan cara diberikan hadiah atau penguatan (reinforcement) atau hukuman (punishment) implikasinya, guru atau pendidikan harus hati-hati dan cermat dalam memberikan hadiah atau hukuman terhadap anak didiknya.

Berbagai pemikiran para ahli di atas kemudian diperkaya oleh para ahli psikologi yang muncul belakangan, seperti Howard Gardener, Ganiefl Goleman, dan Erick Jenses. Pemikiran mereka semakin memperkokoh pendidikan taman kanak-kanak dari sisi filosofis-psikologis. Oleh karena itu, perkembanghan TK di dunia dewasa ini sangat pesat, terutama di negara-negara maju.

Pos ini dipublikasikan di pendidikan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s