sejarah taman kanak-kanak

   Sejarah Taman Kanak-Kanak

Istilah kindergarten ( kinder= anak, garten= taman) atau taman kanak-kanak mulai dikenal setelah Friedrich Wilhelm Frobel ( 1782-1852) seorang ahli pendidikan, mendirikan Kindergarten di Jerman pada 1837. Sebagai orang pertama yang memperkenalkan kindrgarten system, Froble percaya bahwa esensi pendidikan anak usia dini adalah pada aktivitas diri anak itu sendiri dan bermaian.

Pemikiran tentang pentingnya pendidikan khusus bagi anak usia dini sesungguhnya juga sudah dilontarkan jauh sebelumnya oleh para filusuf dan tokoh pendidikan seperti Marthin Luther (1483-1546), Jhon Comnius ( 1592-1670), Jen Jacques Rousseau ( 1712-1778), maupun John Hendrick Pestalozzi ( 1747-1827). Martin Luther menyarankan agar anak laki-laki diberikan pendidikan formal. Logikanya, baik secara ekonomi ataupun untuk kepentingan pendidikan keturunanya kelak.

John Comenius justru sebaliknya dengan Martihin Luther. Comenius menyarankan agar semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, mendapatkan kesempatan yang sama untuk bersekolah. Comenius juga melontarkan gagasan tentang kurikulum teintegrasi  (integrated curriculum) atau kurikulum terpadu yang tidak memisahkan mata pelajaran secara kaku. Kurikulum itu memberi kesempatan anak untuk belajar pengalamn langsung (hands on curriculum). Kegiatan pembelajaran anak disarankan mulai dari aktivitas fisik, sepeti mengamati, meyusun dan merangkai.

Jen jacques rousseau, seorang filsuf terkenal asal prancis, menentang pendapat bahwa anak miniatur orang dewasa. Ia menyarankan agar anak didik sesuai kodratnya sebagai anak dan sesuai usia perkembangan mereka. Rousseau berpendapat, sejak lahir sampai usia 5 tahun anak belajar melalui aktivitas fisiknya.

Setelah itu, usia 5-12 tahun, anak belajar melalui pengalaman langsung dan melalui eksplorasi terhadap lingkungannya.

Sementara John Hendrick Pestalozzi menyarankan agar anak belajar dari benda-benda nyata. Rekreasi dan bermain menjadi bagaian dari pendidikan anak. Bagi Pestalozzi, anak harus memiliki kemerdekaan dan dan terbebas dari tekanan batin dalam belajar. Sehingga anak bisa belajar dan berpikir secara optimal. Sejak dirintis pertama kali oleh Fiedrich wilhelm Frobel di Jerman, pendidikan taman kanak-kanak kemudian berkembang pesat dan mengalami penyempurnaan. Tokoh pendidikan taman kanak-kanak kemudian berkembang pesat dan engalami penyempurnaan. Tokoh pendidikan taman kanak-kanak yang terkenal hingga saat ini adalah maria motesori, seorang dokter  asli Italia, lahir 1870. Pada 1907, ia mendirikan sekolah yang diberi nama Case Dei Bambini (Rumah Anak) atau Children’s House. Montesori kelak, sekolahnya itu dikenal dengan nama montesori school.

Pengalaman yang kaya dalam mendidik anak kemudian ditulis montessori dalam sebuah buku berjudul scientific paedagogy as apllied to child education in childern’s hous. Montesori menggambarkan kodrat anak sebagai makhluk yang memiliki daya serap tinggi terhadap informasi, yang dikenal dengan teori the absorent of mind.

Menurut montesori, anak terus menerus menyerap informasi dari lingkungannya, baik secara sadar maupun tidak. Pada tahap awal, anak sekedar menyerap informasi tanpa adanya aktivitas berpikir terhadap informasi yang diserapnya. Kelak ketika ia lebih dewasa, informasi itu sedikit demi sedikit ditata dalam struktur pengetahuan dan digunakannya untuk berpikir.

Belakangan pada abad ke-19 hinga abad ke-20an, muncul pemikir-pemikir di bidang psikologi dan perkembangan anak, mulai dari jhon dewey, Digmund Freud , Lev Vygotsky, Jean Piaget, Benjamin s. Bloom, hingga Burrhus Frederic (FB) Skinner.

John Dewey menekanakan, pendidikan merupakan proses rekonstruksi pengalaman yang tak pernah berakhir. Oleh karena itu, sekolah sebaiknya memanifestasikan kehidupan itu sendiri, sebagaimana kehidupan yang dialami anak didalam keluarga dan masyarakat.

Segmund Freud menekankan pentingnya mendidik anak dengan benar karena berbagai perilaku manusia ketika dewasa sesungguhnya bisa dideteksi dari apa yang terjadi pada masa kanak-kanak. Oleh karena itu, kesalahan dalam mendidik anak pada masa kecil, nantinya berdampak pada munculnya bebagai perilaku menyimpang ketika sudah dewasa.

Lev Vygotsky, psikolog asal rusia yang mencetuskan teori yang dikenal dengan nama cocial cognitive learning theory. Menurutnya, interaksi sosial memegang peranan terpenting dalam perkembangan kongnitif anak. Anak belajar melalui dua tahapan. Pertama, melalui interaksi dengan orang lain, baik keluarga, teman sebaya, maupun gurunya. Kedua, secara individual ia mengintergasikan apa yang dipelajarinya dari orang lain ke dalam steruktur mentalnya.

Teori belajar Vygotsky ini memiliki empat prinsip umum, yaitu anak merangkai pengetahuan, belajar terjadi dalam konteks yaitu anak merangkai pengetahuan, belajar terjadi dalam konteks sosial, belajar mempengaruhi perkembangan mental, dan bahasa memegang peranan penting dalam perkembangan mental anak.

Jean Piaget menguraikan teori perkembangan anak dilihat dari aspek intelektual maupun moral. Ahli psikologi dari Prancis ini memberikan sumbangan pengetahuan yang sangat besar untuk memahami perkembangan anak pengetahuan yang sangat besar untuk memahami perkembangan anak. Menurut piaget, semua anak memiliki pola perkembangan kognitif yang sama, yaitu melalui tahap sesorimotor ( usia 0-2 tahun, praoperasional (usia 2-7 tahun), konkret operasional (7-11), dan formal operasional (usia 11 tahun keatas).

Benjamin A. Bloom, yang terkenal dengan teorinya tentang taksonomi pendidikan, mengembangkan tiga domain yang menjadi tujuan pendidikan, termasuk pendidikan taman kanak-kanak, yaitu domain kognitif, psikomotorik, dan afektif. Pada tingkat taman kanak-kanak karena berada pada taraf berpikir konkret, maka yang harus mendapat perhatian adalah pengembangan domain psikomotorik.

Penelitian terakhir, yang kemudian dipublikasikan secara luas dan dipakai sebagai rujukan oleh para pakar maupun pengambil kebijakan, menunjukan bahwa pada usia 4 tahun perkembangan intelektual anak sudah mencapai 50%. Pada usia 8 tahun, tingkat kecerdasannya sudah mencapai 80%, dan usia 18 tahun mencapi 100%.

Sedangkan BF Skinner, seorang Behaviorist terkenal, menekankan perlunya menciptakan situasi tertentu untuk mengarahkan perilaku anak. Baik Skinner , perilaku anak bisa diukur, diamati, dan diarahkan seperti yang diharapkan, dengan cara diberikan hadiah atau penguatan (reinforcement) atau hukuman (punishment) implikasinya, guru atau pendidikan harus hati-hati dan cermat dalam memberikan hadiah atau hukuman terhadap anak didiknya.

Berbagai pemikiran para ahli di atas kemudian diperkaya oleh para ahli psikologi yang muncul belakangan, seperti Howard Gardener, Ganiefl Goleman, dan Erick Jenses. Pemikiran mereka semakin memperkokoh pendidikan taman kanak-kanak dari sisi filosofis-psikologis. Oleh karena itu, perkembanghan TK di dunia dewasa ini sangat pesat, terutama di negara-negara maju.

Dipublikasi di pendidikan | Meninggalkan komentar

pendektan pembelajaran BCCT (KBM sistem sentra)

  pendektan pembelajaran BCCT

metode pembelajaran anak usia dini melalui pendektatan BCCT (beyond centers and circle times= sistem sentra & saat lingkaran ) merupakan pendekatan yang dikembangkan melalui hasil kajian teoritik dan pengalaman empirik yang merupakan pengembangan diri dari pendekatan mentossori, high scope, head star, dan Reggio Emilia yang dikembangkan oleh cretive for childhood research and trainging ( CCCRT) Florida, USA dan sudah dilaksanakan selama 35 tahun, baik untuk anak normal maupun anak yang berkebutuhan khusus.

Pendekatan pembelajaran pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan metode BCCT (beyond centers & circle) ini lahir di Florida, amerika Serikat, dan diyakini mampu merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (multiple intelligent) melalui bermaian yang terarah. Seting pembelajaranya mampu merangsang anak untuk saling aktif, kereatif, dan terus berfikir dengan menggali pengalaman sendiri. Hal ini berbeda dengna paradigma pendidikan lama yang menghedaki murid mengikuti perintah, meniru atau menghafal. Kegiatan pembelajaran bermain sambil belajara integrasi agama melalaui pendekatan  BCCT yang dimaksud adalah pola pengajaran yang diterapkan dengan menggunakan kegiatan belajar yang menyenangkan dengna pendekatan sentra dan saat lingkaran.

  1. a.    Pengertian BCCT

Pendekatan sentra dan lingkaran adalah pendekatan penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat dalam lingkaran dengan menggunakan 4 jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangna anak. Empat pijakan tersebut adalah :

  1. Pijakan lingkungna main
  2. Pijakan sebelum main
  3. Pijakan selama main
  4. Pijakan setelah main

Pijakan adalah dukungan yagn berubah-ubah yang disesuaikan dengna perkembangan yang dicapai anak yang diberikan sebagai pijakan untuk mencapai perkembangna yang lebih tinggi.

Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main yang  berfungsi  sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam 3 jefnis main yaitu : (1). Main sensorimotor atau fungsional, (2). Main peran, dan (3) main pembangunan

Saat lingkaran adalah  dimana pendidik (Guru/Kader/Pamong) duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main .

  1. b.    Keunggulan BCCT

Kurikulum BCCT diarahkan untuk membangun pengetahuan anak yang digali oleh anak itu sendiri. Anak didorong untuk bermain di sentra-sentra kegiatan. Sedangkan pendidik berperan sebagai perancang, pendukung dan penilai kegiatan anak. Pembelajaran bersifat individual, sehingga rancangan, dukungan , dan penilaianyapun disesuaikan dengan tingkatan perkembangan di kebutuhan tiap anak.

Semua tahpan perkembangna anak dirumuskan dengna rinci dan jelas, sehingga guru memiliki panduan dalam penilaian perkembangan anak. Kegiatan pembelajaran tertata dalam urutan yang jelas.  Dari penataan lingkungan main sapai pada pemberian pijakan-pijakan.

Setiap anak memperoleh dukungan untuk aktif, kereatif, dan berani mengengambil keputusan sendiri tanpa mesti tahu membuat kesalahan. Setiap tahap perkembangna bermain anak dirumuskan secara jelas, sehingga dapat menjadi acuan bagi pendidik melakukan penilaian perkembangan anak. Penerapan BCCT tidak bersifat kaku. Dapat dilakukan secara bertahap, sesuai situas dan kondisi setempat.

  1. c.    Tujuan dari pendekatan BCCT

Tujuan dari pendekatan BCCT ini antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan sisiwa bekeja mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke sisiwa. STRATEGI pembelajaran lebih dipentingkan dari pada HASIL
  2. Siswa dapat mengerti apa makan belajar, apa manfaatnya, dan bagaiman mencapainya. Mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari akan berguna bagi hidupnya nanti
  3. Memposisikan guru hanya sebagai pengarah dan pembibing atau inspirator, bukan sebagai center, dan penceramah dalam strategi belajar.
  4. Meletakkan pendidikan dasar keimanan, ketakwaan serta seluruh aspek keperibadian (ESQ) yang diperlukan anak didik dalam menyesuikan diri dengan lingkungan untuk pertumbuh kembangan selanjutnya
  5. Terjalin kerja sama, saling menunjuang antara siswa dengan sisiwa, dan siswa dengan guru, sehingga menyebabkan sisiwa kretis dan guru kreatif.
  6. Membuat situasi belajar lebih menyenangkan dan tidak membosankan sehingga siswa dapat belajar sampai tingkatan “Joy Of Discovery”, tertantang untuk dapat memecahkan masalah dengan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya.
  7. d.    Pengenalan sentra & lingkaran dalam kelas

Model pendekatan sentra menitik beratkan pada pandangan ahli pendidikan. Kegiatan pengajaran harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan individu yang mempunyai tempat dan irma perkembangan berbeda satu dengan yang lainya.

Menurut Helen Parkhust (1807) seorangahli pendidikan di Amerika, mengemukakan bahwa kegiatan pengajaran haurs memberikan kemungkinan kepada murid untuk berintraksi, bersosialisasi dan bekeja sama dengan murid lain dalam mengerjakan tugas tertentu secara mandiri. Pandangan ini tidak  mementingkan aspek individu, tetapi juga aspek sosial. Bentuk pengajarannya memadukan model klasikal  dan individual.

Pendekatan sentra berfokus pada anak.  Pembelajaran berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran . sentra main yang berungsi sebagai Area main yang dilengkapi seperangkat alat main yang berfungsi sebagai  pijakan lingkungan  yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak.  Sedangkan saat lingkaran adalah saat pendidikan duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberi pijakan pada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main.

Ruang kelas dapat dimodifikasikan menjadi kelas-kelas kecil, yang disebut ruangan atau sentra-sentra . tiap sentra terdiri dari satu bidang pengebangan. Ada sentra Ibadah, sentra Bahan Alam, sentra main / sentra Seni dan sentra Main Peran Mikro, Sentra Balok, sentra Persiapan sentra Seni dan Kreatifitas, sentra Musik dan Oleh Tubuh, sentra Memasak.  Seorang guru betanggung jawab pada 7-12 siswa saja dengan moving  class (kelas berpindah-pindah) setiap hari dari satu sentra ke sentra lain.

Untuk menerapkan metode ini, guru harus mengikuti pijakan-pijakan guna membentuk keteraturan bermain dan belajar. Pijakan pijakan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pijakan lingkungan

Guru menata lingkungan yang disesuaikan dengan intersitas dan densitas

  1. Pijakan sebelum bermain
    1. Guru meminta sisiwa untuk membentuk lingkaran
    2. Guru ada diantara siswa sambil bernyayi
    3. Guru meminta para siswa untuk duduk melingkar
    4. Guru meminta para sisiwa berdo’a bersama
    5. Guru menanyakan sisiwa kesiapan mendengar cerita dan memasuki sentra
    6. Guru memulai bercerta menggunakan media yang sesuai tema
    7. Guru mengimformasikan jensi maian yang ada dan menyeampaikan aturan bermaian
    8. Guru meminta sisiwa untuk masuk kearena sentra

 

  1. Pijakan saat  bermain
    1. Guru empersiapkan catatan perkembangan sisiwa
    2. Guru mencatat perilaku, kemampuan dan celetukan sisiwa
    3. Guru membantu sisiwa jika dibutuhkan
    4. Guru mengingatkan sisiwa bila ada yang lupa atau melanggar aturan
    5. Pijakan setelah bermaian
      1. Guru meminta sisiwa untuk membereskan mainn dan alat yang dipakai
      2. Guru meminta siswa menceritakna pengalmaan bermaiannya sambil menghitung jumlah kegiatan yang idlakukan
      3. Guru menutup kegiatan dengna berdo’a bersama
      4. Guru membagikan buku komunikasi sebelum pulang.

Contoh pembagian sentra yang dilakukan pada KB dan RA  TK islam batussalam  ada 6 sentra, antara lain :

  1. Sentra Ibadah
  2. Sentra Bahan Alam
  3. Sentra  Peran
  4. Sentra Balok
  5. Sentra Persiapan
  6. Sentra Seni dan Kerativitas

Tiap-tiap sentra mempunyai tujuannya masing-masing sesuai dengan pengembangannya. Namun, pada intinya tiap sentra in mempunyai satu tujuan pokok yaitu mengoptimalakan potnesi anak dalam kemampuan kognitif, afekti, dan psikomotorik, serta menanamkan nilai-nilai agama pada anak

ingkaran ) merupakan pendekatan yang dikembangkan melalui hasil kajian teoritik dan pengalaman empirik yang merupakan pengembangan diri dari pendekatan mentossori, high scope, head star, dan Reggio Emilia yang dikembangkan oleh cretive for childhood research and trainging ( CCCRT) Florida, USA dan sudah dilaksanakan selama 35 tahun, baik untuk anak normal maupun anak yang berkebutuhan khusus. Pendekatan pembelajaran pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan metode BCCT (beyond centers & circle) ini lahir di Florida, amerika Serikat, dan diyakini mampu merangsang seluruh aspek kecerdasan anak (multiple intelligent) melalui bermaian yang terarah. Seting pembelajaranya mampu merangsang anak untuk saling aktif, kereatif, dan terus berfikir dengan menggali pengalaman sendiri. Hal ini berbeda dengna paradigma pendidikan lama yang menghedaki murid mengikuti perintah, meniru atau menghafal. Kegiatan pembelajaran bermain sambil belajara integrasi agama melalaui pendekatan BCCT yang dimaksud adalah pola pengajaran yang diterapkan dengan menggunakan kegiatan belajar yang menyenangkan dengna pendekatan sentra dan saat lingkaran. a. Pengertian BCCT Pendekatan sentra dan lingkaran adalah pendekatan penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat dalam lingkaran dengan menggunakan 4 jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangna anak. Empat pijakan tersebut adalah : a. Pijakan lingkungna main b. Pijakan sebelum main c. Pijakan selama main d. Pijakan setelah main Pijakan adalah dukungan yagn berubah-ubah yang disesuaikan dengna perkembangan yang dicapai anak yang diberikan sebagai pijakan untuk mencapai perkembangna yang lebih tinggi. Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam 3 jefnis main yaitu : (1). Main sensorimotor atau fungsional, (2). Main peran, dan (3) main pembangunan Saat lingkaran adalah dimana pendidik (Guru/Kader/Pamong) duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main . b. Keunggulan BCCT Kurikulum BCCT diarahkan untuk membangun pengetahuan anak yang digali oleh anak itu sendiri. Anak didorong untuk bermain di sentra-sentra kegiatan. Sedangkan pendidik berperan sebagai perancang, pendukung dan penilai kegiatan anak. Pembelajaran bersifat individual, sehingga rancangan, dukungan , dan penilaianyapun disesuaikan dengan tingkatan perkembangan di kebutuhan tiap anak. Semua tahpan perkembangna anak dirumuskan dengna rinci dan jelas, sehingga guru memiliki panduan dalam penilaian perkembangan anak. Kegiatan pembelajaran tertata dalam urutan yang jelas. Dari penataan lingkungan main sapai pada pemberian pijakan-pijakan. Setiap anak memperoleh dukungan untuk aktif, kereatif, dan berani mengengambil keputusan sendiri tanpa mesti tahu membuat kesalahan. Setiap tahap perkembangna bermain anak dirumuskan secara jelas, sehingga dapat menjadi acuan bagi pendidik melakukan penilaian perkembangan anak. Penerapan BCCT tidak bersifat kaku. Dapat dilakukan secara bertahap, sesuai situas dan kondisi setempat. c. Tujuan dari pendekatan BCCT Tujuan dari pendekatan BCCT ini antara lain adalah sebagai berikut: a. Proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan sisiwa bekeja mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke sisiwa. STRATEGI pembelajaran lebih dipentingkan dari pada HASIL b. Siswa dapat mengerti apa makan belajar, apa manfaatnya, dan bagaiman mencapainya. Mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari akan berguna bagi hidupnya nanti c. Memposisikan guru hanya sebagai pengarah dan pembibing atau inspirator, bukan sebagai center, dan penceramah dalam strategi belajar. d. Meletakkan pendidikan dasar keimanan, ketakwaan serta seluruh aspek keperibadian (ESQ) yang diperlukan anak didik dalam menyesuikan diri dengan lingkungan untuk pertumbuh kembangan selanjutnya e. Terjalin kerja sama, saling menunjuang antara siswa dengan sisiwa, dan siswa dengan guru, sehingga menyebabkan sisiwa kretis dan guru kreatif. f. Membuat situasi belajar lebih menyenangkan dan tidak membosankan sehingga siswa dapat belajar sampai tingkatan “Joy Of Discovery”, tertantang untuk dapat memecahkan masalah dengan menerapkan pengetahuan yang diperolehnya. d. Pengenalan sentra & lingkaran dalam kelas Model pendekatan sentra menitik beratkan pada pandangan ahli pendidikan. Kegiatan pengajaran harus disesuaikan dengan sifat dan keadaan individu yang mempunyai tempat dan irma perkembangan berbeda satu dengan yang lainya. Menurut Helen Parkhust (1807) seorangahli pendidikan di Amerika, mengemukakan bahwa kegiatan pengajaran haurs memberikan kemungkinan kepada murid untuk berintraksi, bersosialisasi dan bekeja sama dengan murid lain dalam mengerjakan tugas tertentu secara mandiri. Pandangan ini tidak mementingkan aspek individu, tetapi juga aspek sosial. Bentuk pengajarannya memadukan model klasikal dan individual. Pendekatan sentra berfokus pada anak. Pembelajaran berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran . sentra main yang berungsi sebagai Area main yang dilengkapi seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak. Sedangkan saat lingkaran adalah saat pendidikan duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberi pijakan pada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main. Ruang kelas dapat dimodifikasikan menjadi kelas-kelas kecil, yang disebut ruangan atau sentra-sentra . tiap sentra terdiri dari satu bidang pengebangan. Ada sentra Ibadah, sentra Bahan Alam, sentra main / sentra Seni dan sentra Main Peran Mikro, Sentra Balok, sentra Persiapan sentra Seni dan Kreatifitas, sentra Musik dan Oleh Tubuh, sentra Memasak. Seorang guru betanggung jawab pada 7-12 siswa saja dengan moving class (kelas berpindah-pindah) setiap hari dari satu sentra ke sentra lain. Untuk menerapkan metode ini, guru harus mengikuti pijakan-pijakan guna membentuk keteraturan bermain dan belajar. Pijakan pijakan tersebut adalah sebagai berikut: a. Pijakan lingkungan Guru menata lingkungan yang disesuaikan dengan intersitas dan densitas b. Pijakan sebelum bermain 1. Guru meminta sisiwa untuk membentuk lingkaran 2. Guru ada diantara siswa sambil bernyayi 3. Guru meminta para siswa untuk duduk melingkar 4. Guru meminta para sisiwa berdo’a bersama 5. Guru menanyakan sisiwa kesiapan mendengar cerita dan memasuki sentra 6. Guru memulai bercerta menggunakan media yang sesuai tema 7. Guru mengimformasikan jensi maian yang ada dan menyeampaikan aturan bermaian 8. Guru meminta sisiwa untuk masuk kearena sentra c. Pijakan saat bermain 1. Guru empersiapkan catatan perkembangan sisiwa 2. Guru mencatat perilaku, kemampuan dan celetukan sisiwa 3. Guru membantu sisiwa jika dibutuhkan 4. Guru mengingatkan sisiwa bila ada yang lupa atau melanggar aturan d. Pijakan setelah bermaian 1. Guru meminta sisiwa untuk membereskan mainn dan alat yang dipakai 2. Guru meminta siswa menceritakna pengalmaan bermaiannya sambil menghitung jumlah kegiatan yang idlakukan 3. Guru menutup kegiatan dengna berdo’a bersama 4. Guru membagikan buku komunikasi sebelum pulang. Contoh pembagian sentra yang dilakukan pada KB dan RA TK islam batussalam ada 6 sentra, antara lain : 1. Sentra Ibadah 2. Sentra Bahan Alam 3. Sentra Peran 4. Sentra Balok 5. Sentra Persiapan 6. Sentra Seni dan Kerativitas Tiap-tiap sentra mempunyai tujuannya masing-masing sesuai dengan pengembangannya. Namun, pada intinya tiap sentra in mempunyai satu tujuan pokok yaitu mengoptimalakan potnesi anak dalam kemampuan kognitif, afekti, dan psikomotorik, serta menanamkan nilai-nilai agama pada anak

Dipublikasi di pendidikan | Meninggalkan komentar